Masalah-Masalah Pembagian Komisi Driver, Pemilik Kendaraan dan Rental

euro-447214_1920

 

Dalam artikel sebelumnya dijelaskan bahwa terdapat para hero, leader dan pioneer  dalam perkembangan uber di Indonesia yang kemudian menetapkan arah dasar pengembangan kemitraan dan pembagian persentase antara pemilik kendaraan, pemilik rental, dan driver uber.

Formula pembagian persentase tersebut yang kemudian menjadi acuan bagi para pemilik kendaraan, pemilik rental dan driver uber.

Masalahnya adalah ada beberapa pihak (baik pemilik kendaraan maupun pemilik rental) yang merasa berada dalam posisi yang lebih kuat dibandingkan pihak lain (misalnya driver) sehingga mereka tidak mau mengikuti formula pembagian persentase yang umum berlaku. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan pihak yang merasa dirugikan dan kemudian mulailah mereka mencari peluang ditempat lain.

Sebagai contoh, banyak partner uber yang telah terlanjur bergabung dengan pinjam bendera rental kemudian mencari cara agar bisa keluar dari naungan rental dan langsung bergabung dengan uber sebagai individu.

Selain itu ketidakpuasan juga mungkin dirasakan oleh driver uber yang pembagian persentasenya  tidak sesuai dengan pasaran atau keberatan dengan sistem gaji tetap.

Sebagian besar ketidakpuasan/masalah terjadi karena pembagian yang tidak sesuai dengan pasaran,
namun ada juga masalah yang terjadi meskipun pembagian sudah sesuai dengan pasaran.

Misalnya mengenai rental. Ada pihak rental yang memberikan support penuh pada mitranya dalam keadaan timbul masalah di jalan: tilang, razia, mogok, tersesat, apps error, etc sehingga para mitra merasa puas meskipun harus memberikan bagian 5% kepada rental.

Namun ada juga rental yang menganggap bahwa mereka cukup menyediakan jasa “pinjam bendera” tanpa memberikan support apapun kepada mitranya. Tentu hal ini akan menimbulkan masalah apabila para mitra kemudian mengetahui bahwa kalau di rental lain bayar 5% mendapatkan support penuh, bukan hanya fee “pinjam bendera”


berhemat